Semoga Kau Bahagia wahai “Masa Mudaku”
Hidup itu susah, hidup itu dusta, hidup cuma panggung sandiwara, hidup itu penderitaan, hidup tidak adil, dan yang lainnya tentang betapa sialnya hidup ini. . . . dan itulah yang saya dan teman2 sering katakan tentang hidup ini. apa sih sebenarnya tujuan kita hidup? kenapa Tuhan “menghidupkan” kita dengan keadaan serumit ini??? hal itulah yang sering saya rasakan, seringkali tuhan “memberiku” setelah kemudian aku nyaman dengan pemberiannya, tiba2 ia mengambilnya dengan tiba2. . . seringkali Tuhan memberikan aku harapan, dan kemudian aku tidak mampu mencapainya. . .
tidak lama ini aku mengalami depresi berat ketika aku kehilangan seorang yang aku cintai,, sebut saja
Mawar-Melati-semuanya-indah, saat itu pertama kali aku merasakan keyakinan akan cinta yang aku jalani, aku merasa orang tersebut adalah tujuan hidupku, satu-satunya wanita yang kelak akan menjadi istriku,, saat aku dengannya, beribu janji telah kami nyatakan berdua untuk saling setia, saling percaya, saling menanti untuk nanti 8 tahun lagi kita menikah. . . . mungkin terdengar berlebihan dan impian yang kekanak-kanakan sekali. . . tapi dari itulah aku mulai merubah pandangan hidupku, merubah cita-citaku, agar aku dapat membahagiakannya dan membuat orang tuanya bangga. aku lakukan segalanya untuk mengejar semua itu,, dan saat SNMPTN akhirnya aku gagal masuk Kedokteran, dan aku ingat kata2 dia saat itu “gak apa2, pean gak jadi dokter gak masalah, kuliah aja yang lainnya, aku pasti tetap akan sayang n cinta sama pean seperti apapun pean nantinya” saat itu aku bahagia sekali karena ada penerimaan darinya akan keadaanku saat itu. . . . akhirnya aku kuliah di Fakultas Psikologi UMM dan menjalani hari2ku disana. . . .
Setiap hari di Malang aku jalani dengan selalu merindukan dia dan memikirkan dia, dan aku sadar, sifat cerewetku mulai meningkat seiring aku jauh dengan dia. . .aku sangat cerewet sekali, sampai2 aku gak tau kenapa itu bisa terjadi, yang aku tau aku takut sekali kehilangan dia, aku takut ada apa2 dengannya. . . . mungkin karna sifatku yang seperti itulah sehingga sedikit demi sedikit ia kehilangan rasa cintanya padaku dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan aku. . . dan aku sangat tidak percaya bahwa alasan ia meninggalkanku adalah karena aku adalah “beban” untukknya, dan karena itu ia tidak bisa lagi mencintaiku. . .
Aku terdiam saat ia menyampaikan itu saat aku menelponnya,, lalu aku bertanya, pertanyaan yang mungkin relatif sama yang di tanyakan oleh orang2 yang di putuskan oleh pacarnya, yaitu “Terus gimana janjimu sayang? janji yang gak akan ninggalin aku dan janji yang akan selalu mencintaiku apa adanya. . .” dan jawabannya selalu sama “maaf aku sudah gak bisa”. . . .
Saat itu aku hanya bisa memegang erat dadaku yang tiba2 sesak, air mataku mengalir deras, aku tidak bisa berbicara sepatah katapun,, aku benturkan kepalaku berharap ini semua hanya mimpi dan aku ingin lekas terbangun. . . dan ternyata ini adalah kenyataan, sebuah kenyataan yang tak pernak aku pikirkan dan tak mau aku pikirkan. . . .
Lalu seakan-akan. . . waktuku, usahaku, dan pengorbananku tidak ada gunanya,, mimpiku terbuang sia-sia. . . andaikan ia tahu, aku sangat mencintainya, aku sangat menghargainya, dan aku sangat mengidolakannya. . . aku malu,, ya aku malu pada diriku, pada teman2ku, pada guru2ku, dan pada orang tuaku yang selama ini telah mendukung hubunganku dengannya yang mereka bilang aku serasih dengannya. . . .
Sayang,, kalau tahu akan seperti ini, seharusnya dulu kamu tidak perlu mencintai aku, tidak perlu berjanji akan selalu denganku,, tapi aku bersyukur, karena selama ini aku bisa mengenalmu, menemanimu, menjagamu, dan mencintai kamu,, meskipun sekarang kamu tidak mencintaiku, . . . aku akan selalu mendoakanmu, agar kelak kamu bahagia dengan lelaki yang menjadi suamimu,, terimakasih telah menemani aku, wahai “masa remajaku”. . . .
“Saat orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita, dan kita tidak bisa lagi menjaganya, maka doakanlah dia dari lubuk hati yang terdalam. . . mungkin sakit, tapi dari dialah kita dapat lebih dewasa dalam menjalani hidup yang keras ini. . . . “